Ketika kita berkenalan, saya tidak minta banyak hal kecuali pertemanan. Tapi kamu membuka mata dan hati saya lalu membakar trauma yang sedang saya rasakan. Jika perasaan itu semakin membesar, apakah saya salah? Maaf jika saya terlalu berharap, tak bersikap sadar diri ataupun memilih menjauhi perasaan ini.
Mungkinkah kamu mempunyai perasaan sayang dan cinta sebesar, seindah, dan seluas yang saya miliki? Mungkin iya mungkin tidak. Kamu sulit ditebak. Tapi saya mencintai segala teka-tekimu. Kamu hadir disaat yang tepat, saat saya menginginkan perkenalan tanpa keribetan. Saya menemukan wanita idaman didalam dirimu, tapi saya bukan lah sosok pria yang kamu inginkan. Saya terlalu buruk untukmu. Saya tidak ingin paras cantikmu bersanding dengan pria serendah saya. Kamu terlalu sempurna untuk si buruk rupa yang merindukan mimpi indah seperti saya.
Saya pria yang ingin setia tapi tidak tau bagaimana untuk setia, untuk membuatmu nyaman tidur diatas kasur kasih sayang yang saya punya. Saya melirik ke belakang, melihat, merasakan dan mengenang apa saja yang kita lewati. Saya mengenang rangkulan dan hangatnya tanganmu saat pertama kali. Saya mengira semua baik-baik saja sampai akhirnya kamu menyerah dan sudah tidak sanggup dengan sifat dan kekurangan saya. Saya tak cukup kuat untuk mengembalikan kenangan itu seperti dulu lagi.
Kembalilah sayang. Jangan biarkan saya menjadi orang munafik yang berpura-pura mengikhlaskan kepergianmu. Saya menunggumu sampai waktu tidak bisa menunggu lagi. Saya akan berusaha jadi yang kamu mau.